Senin, 27 Juli 2009
cerita tentang sebuah perjalanan
dulu aku memeikirkan sebuah pendidikan menciptakan sebuah individu yang mampu melibatkan diri dalam setiap lembar kehidupan yang memiliki isi dalam seiap kebenaran.
namun semuanya sirna ketika aku melihat bahwa hidup memiliki sebuah kebutuhan yangh harus dipenuhi setiap hari
Minggu, 26 Juli 2009
pentingnya pengajaran sastra
ARTIKEL PENGAJARAN SASTRA
PENTINGNYA PENGAJARAN SASTRA
BAGI KEHIDUPAN
Bagaimana sebaiknya mengajarkan sastra? Itu bukan pertanyaan pertama yang harus dijawab oleh seorang guru sastra. Karena mula-mula yang harus dijawabnya adalah: apakah sastra itu? Kemudian, menyusul pertanyaan: apa yang dimaksudkan dengan mengajarkan? Dapatkah sastra diajarkan? Lalu siapa saja yang hendak dibelajarkannya pada sastra.
Mungkin setelah itu seorang guru sastra mendapatkan beberapa pegangan untuk untuk menjawab, walau pun tidak benar-benar tuntas tentang: bagaimana mengajarkan pelajaran sastra. Tetapi sementara itu, pertanyaan lain sudah buru-buru hendak mengejar. Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya ada di luar sastra. Apa, siapa dan bagaimana sebenarnya apa yang disebut “guru” itu. Apakah itu sebuah lembaga atau orang?
Sastra menurut etimologinya adalah tulisan. Sedangkan kesusastraan adalah segala tulisan yang indah. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah yang tidak indah tidak termasuk sastra. Apa batas/syarat keindahan itu. Bagaimana kalau ada sebuah karya yang sama sekali tidak indah, tetapi mengandung ekspresi yang sangat penting, sehingga menuntun imajinasi mengembara ke sesuatu yang lain, yang mengantarkan ke pada makna-makna yang mendasar, sehingga menciptakan haru?. Apa itu juga keindahan? Kalau begitu keindahan itu bisa tidak indah?
Lalu bagaimana dengan sastra lisan yang menjadi salah satu kekuatan di dalam tradisi kita, apa itu bukan sastra hanya karena tidak tertulis? Sebuah sastra lisan
Tetapi bila dibunyikan, lewat mulut seorang nenek untuk didengarkan oleh cucunya yang sedang tumbuh, ia menjadi sebuah tenung yang mengandung berbagai aspek. Di situ ada pendidikan moral yang diam-diam menjadi kekayaan batin calon penerus generasi itu di masa depan. Sastra lisan adalah sebuah lab, sebuah kepustakaan yang berwujud bunyi yang sangat besar artinya pada tradisi Timur yang menempatkan pembelajaran sebagai proses yang non formal yang disebut magang atau nyantrik..
Sastra dalam pemahaman saya, adalah segala bentuk ekspresi dengan memakai bahasa sebagai basisnya. Dengan membuat kapling yang begitu lebar dan umum, maka kita seperti menjaring ikan dengan pukat harimau. Bukan hanya apa yang tertulis, apa yang tidak tertulis pun bisa masuk dalam sastra. Tidak hanya yang su (indah), catatan-catatan, surat-surat, renungan, berita-berita, apalagi cerita dan puisi, anekdot, graffiti, bahkan pidato, doa dan pernyataan-pernyataan, apabila semuanya mengandung ekspresi, itu adalah sastra.
Dengan memandang sastra dengan kaca mata lebar seperti itu, lingkup sastra mendadak membludak menyentuh segala sektor kehidupan. Tidak ada satu sudut kehidupan pun yang tidak mempergunakan bahasa sebagai alat komunikasinya. Segala hal kena gigit oleh sastra. Teknologi dan dagang pun tak mampu bebas dari sastra.
Dengan kata lain, tak ada bidang yang tak terkait dengan sastra. Karenanya, bila sastra tiba-tiba menjadi sesuatu yang terisolir dalam kehidupan, pasti ada sesuatu yang telah sesat . Termasuk kesesatan dalam mengajarkan sastra itu sendiri.
Bila di masa lalu, pelajaran sastra hanya dikunyah oleh anak-anak bagian A (budaya) di SMA, bahkan kemudian nyaris dibuang, karena jam pelajarannya dikanibal oleh pelajaran tata bahasa, maka sebenarnya sudah terjadi kesalahan besar. Sastra harus dibelajarkan kepada semua jurusan, karena tanpa menguasai sastra, tata bahasa hanya akan menjadi alat menyambung pikiran/logika dan bukan menyambung rasa. Dan tanpa kehidupan rasa, semua cabang ilmu pengetahuan bukan hanya kering, membosankan, tidak manusiawi, tetapi juga tidak beradab.
Dengan memandang sastra seperti itu, tak ada yang tidak terjamah oleh sastra. Sastra sendiri sebaliknya juga tidak hanya terpatok pada dirinya sendiri. Sastra tak terkunci pada keindahan, kemolekan dan tulisan tok. Sastra tak hanya masturbasi kata-kata, tetapi idiom idiom bahasa, yang menjadi kanal-kanal ekspresi ke segala bidang, baik seni-budaya, teknologi, ekonomi maupun masalah-masalah sosial-politik, pendidikan, pemerintahan bahkan juga agama.
Tak heran, kalau di berbagai kampus yang sudah mapan, pembelajaran sastra, dikaitkan dengan sejarah dan politik. Karya-karya sastra tidak lagi hanya berhenti sebagai bacaan pelipur lara, tetapi juga menjadi dokumen sosial-politik terhadap kurun masa di saat pengarangnya hidup. Dari sebuah cerpen, misalnya, seorang professor pengamat politik di Universitas Cornell,
Guru sastra bertugas untuk membuka semua katup-katup sastra. Dengan keberadaan seorang guru permainan kata-kata itu tidak mampus sebagai teka-teki, tetapi memberikan inspirasi yang membuat sastra berdaya. Sastra akan memotivasi bahkan menstimulasi manusia untuk bangkit, bekerja, berjuang dan mencapai targetnya. Guru sastra adalah seoprang jubir, seorang PR, seorang menejer, seorang agen dan seorang penafsir. Walhasil seorang “:pemain” aktip, bukan hanya makelar apalagi
Pada prakteknya, seorang guru di masa lalu, adalah seorang “penghajar”. Ia memiliki posisi lebih tahu, lebih cerdik, lebih pintar dan lebih berkuasa . Untuk mengoper ilmu yang dikuasainya (padahal sering ilmu yang sudah kedaluwarsa), ia tak segan-segan melakukan kekerasan dengan dalih desiplin. Suasana kelas lebih merupakan pertunjukan monolog dan indoktrinasi tanpa boleh ada yang membantah. Yang terjadi bukan proses pembelajaran tetapi penderaan. Murid-murid disiksa untuk menelan, menghapal, apa yang dimuntahkan oleh guru. Berpendapat lain bisa dicap kurangajar.
Hasil pembelajaran seperti itu memang tak menghalangi anak-anak yang jenius untuk tumbuh terus dan melejit berdasarkan kodratnya. Tetapi secara umum, posisi guru yang menghajar itu sudah menyelewengkan makna pembelajaran menjadi pelajaran mengembik. Murid-murid hapal nama-nama, tahun dan jumlah, tetapi tak mampu memaknakan apa hakekat dari semua pengetahuan yang diterimanya.
Murid yang terdidik bertahun-tahun bukannya menjadi luas wawasannya dan kaya gagasannya, tetapi malah menjadi berkepala keras dan pada gilirannya, mentoladan jejak gurunya, menjadi otoriter.
Mengajar adalah mengantar, membimbing, mengembangkan potensi anak-anak didik dengan berbagai pengetahuan yang harus terus dikembangkan dan diikuti perkembangannya. Pelajaran bukanlah tujuan, tetapi alat untuk mengantar mereka yang diajar agar sampai kepada hakekat dari makna-makna berbagai hal di dalam kehidupan yang terus bergerak, berkembang, bertumbuh bahkan mungkin berubah.
Kadangkala seorang guru bisa lebih bodoh dari muridnya, tetapi ia tetap seorang guru. Ia menjadi guru bukan karena lebih pintar, tetapi karena berkemampuan untuk mengembangkan potensi anak didiknya berdasarkan kemampuan masing-masing. Mengajar dengan demikian bukanlah mengindoktrinasi, atau menyulap orang bodoh menjadi pintar. Guru bukan seorang dukun, bukan juga tukang sihir dan bukan seorang tiran.
Guru adalah seorang teman yang membimbing yang membagi informasi secara periodik dan sistimatik, sesuai dengan tingkat kemampuan anak didiknya. Sehingga apabila ia menghadapi murid yang sangat pintar, yang lebih pintar dari dirinya, ia tidak perlu merasa terancam akan dipecat. Sekali seorang menjadi guru, ia tetap saja guru, karena itu sebuah fungsi yang tetap diperlukan oleh orang yang pintar sekali pun, karena “guru” lah yang menemani muridnya untuk mengembangkan kepintarannya.
Mengajar lebih cenderung sebagai menemani secara aktip, anak-anak didik dalam memunggut pengetahuan dari berbagai buku. Mengajar lebih kurang adalah menjadi seorang tukang kebun dengan berbagai bibit pohon yang memiliki watak berbeda-beda, di dalam sepetak tanah yang sama.
Kesibukan rutinnya adalah merawat dan mengembangkan. Bagaimana membagi perhatian, bagaimana menyiasati agar pohon-pohon itu berkembang, di tanah yang adanya memang begitu, adalah tanggungjawab guru.
Mengajar sama sekali bukan menghajar, meskipun sekali tempo diperlukan hajaran. Mengajar adalah mempengaruhi kalau perlu “menipu” anak didik untuk mencintai dan melihat kegunaan dari apa yang dibelajarkan. Mengajar berarti membuat siasat. Seorang guru harus belajar bersiasat, tanpa bersiasat, pembelajaran akan kembali menjadi penghajaran.
Seorang guru harus dapat membuktikan bahwa apa yang diajarkannya bermanfaat. Tanpa melihat kemanfaatan dari apa yang dipelajari, tanpa menyadari kaitannya dengan realita, maka pelajaran tetap akan kembali sebagai “penghajaran” yang membuat mereka yang belajar merasa didera/dihukum.
Mengajar bukan menyulap seorang anak yang bodoh menjadi pintar, bukan mendadani murid dengan asesoris ijazah/gelar, tetapi mencoba membuktikan bahwa bahwa anak yang bodoh itu sebenarnya sudah keliru, karena ia lupa bahwa dirinya pintar. Tak ada yang bisa diajarkan kepada orang lain, apalagi sastra.
Sastra tak bisa dan tak perlu diajarkan. Yang bisa dilakukan oleh seorang guru sastra dalam mengajar adalah mengajak anak didiknya untuk melihat kemanfaatan sastra. Memposisikan sastra sedemikian rupa pada tempatnya yang tepat sehingga jelas kaitannya, relevansinya dengan kehidupan dan proses pembelajaran. Dengan lain kata, seorang guru sastra berdiri di depan kelas di hadapan murid-muridnya, bagaikan seorang pembela di dalam sebuah peristiwa pengadilan, untuk membuktikan, untuk menunjukkan, bahwa sastra adalah ilmu.
Apa gunanya sastra. Mengapa sastra terkait dengan hidup setiap orang? Itulah yang harus dijawab oleh setiap guru sastra supaya pebelajarannya tidak menjadi penghajaran.
Bukan pengetahuan pengajar atau apa yang cocok dengan pengajar yang penting, tetapi apa yang akan menjadi pengetahuan yang diajar dan bagaimana membuat yang diajar jadi berpengetahuan, itulah yang menjadi prioritas dan agenda mutlak. Seorang guru sastra memiliki strategi masing-masing sesuai dengan
Pelajaran sastra tak penting diajarkan oleh siapa, tapi siapa yang diajar, itu sangat menentukan. Di masa lalu hal ini diabaikan. Kurikulum yang ingin mensistimatiskan pendidikan, mecoba melihat pembelajaran sebagai membangun rumah. Desainnya yang terlebih dahulu dirancang. Kemudian dirinci pelaksanaannya sesuai dengan waktu dan biaya. Lalu hasilnya ditargetkan. Tapi apa yang terjadi?
Yang muncul adalah satu birokrasi yang rapih. Rumah pun jadi, nampak indah, tepat waktu, sesuai dengan rencana dan tidak ada pembengkakan biaya. Itu sem ua memang cocok buat menyusun laporan, sebab ada rencana, ada hasil, sehingga jelas plus dan minus prosesnya dalam setiap tahun. Persis seperti sebuah pembukuan uang.
Tetapi apa lacur, rumah yang dibangun itu, hasil pembelajaran sastra itu, ketika dihuni, ketika diujicoba hasilnya, yang tinggal hanya dendam, rasa benci dan muak, karena hanya menjadi kenang-kenangan bagi mereka yang sudah dihajar, terhadap tindak kekerasan. Rumah itu bukan dipersiapkan untuk ditinggali tetapi dilihat sebagai maket dal;am sebuah pameran. Pelajaran sastra hanya menjadi pelajaran tidak perlu yang buang-buang waktu dan membuat orang benci pada sastra.
_ Pembelajaran sastra telah menghasilkan semacam Rumah Sangat Sederhana yang cocok untuk etalase laporan administrative, bahwa sudah dilaksanakan pembangunan. Namun kalau ditanyakan kepada para penghuninya, tak seorang pun yang dapat hidup tenang di dalam penjara yang mirip kotak-kotak burung dara itu. Berbeda dengan rumah-rumah liar yang tak terencana di tepi sungai atau sepanjang rel kereta api di stasiun.
Walau bentuknya tidak karuan, tetapi rumah-rumah itu benar-benar menjadi sarang bagi pengghuninya. Bentuk dan keindahannya tak direncanakan, tetapi tercipta berdasarkan kebutuhan penghuninya, sehingga cocok dan akrab. Rumah semacam itulah yang lebih diperlukan dalam proses pembelajaran sastra.
Mengajarkan sastra tidak boleh dimulai dengan sastra itu sendiri, tetapi siapa yang akan mempelajarinya. Lingkungan, latar belakang dan kebutuhan mereka yang hendak diberikan pelajaran sastra, tidak boleh kalah penting dari suara karya-karya itu. Tidak seperti pelajaran sejarah, sastra bukanlah masa lalu, karenanya harus mulai dari aksi-aksi yang nyata.
Kerucut sistim pembelajaran yang mengajak guru memulai pelajaran sastra seperti pelajaran sejarah sastra, sehingga harus mulai dengan menghapal apa itu pantun, gurindam, soneta dan seloka, perlu dibalik total. Pelajaran sastra harus hidup, dimulai dengan apa yang nyata di sekitar dalam lingkungan mereka yang diajar.
Sajak-sajak pamflet Rendra, lagu-lagu Bimbo yang liriknya ditulis oleh Taufiq Ismail, misalnya, selama ini tak pernah sempat diajarkan di dalam pelajaran sastra, karena adanya diujung kerucut. Bahkan guru-guru sastra pun banyak yang tidak tahu. Pelajaran sastra harus dimulai digenjot dari masa kini, karena sastra bukan hanya mimpi, bukan cerita masa lampau..
Sebuah sajak, novel, lakon, cerpen, esei dan sebagainya hanya alat untuk menyampaikan/mengekspresikan gagasan dari penulisnya/pengarangnya. Di balik cerita, di dalam kata-kata ada rembukan dan kesaksian. Itulah yang harus ditontonkan kepada mereka yang belajar sastra. Membaca karya sastra seperti menggali tambang mengeruk, memburu makna-makna yang bersembunyi di balik kata-kata.
Sajak “Aku” yang ditulis oleh Chairil Anwar, setiap kali dibaca kembali, seperti sebuah sajak yang baru, karena ia mengandung makna yang seperti tumbuh. Kata-kata memang sesuatu yang mati, tetapi maknanya berkembang, mengikuti interptretasi dari pembaca. Karya sastra tidak membungkam pembaca, tetapi justru menawarkan diri agar pembaca dapat mengembangkan interpretasinya. Sastra menggelorakan kehidupan pikir dan imajinasi pembaca. Permainan itulah yang akan membuat sastra menjadi semacam permainan yang seharusnya menarik dan asyik karena hampir tanpa batas.
Sebuah lakon bernama “Menunggu Godot” karya Samuel Beckett, adalah sumbangan yang monumental terhadap kehidupan. Sebagaimana Thomas Alfa Edison yang menemukan listrik, atau Einstein yang menyumbangkan teori kwantum, Beckett menangkap satu makna besar dari kehidupan bahwa pada hakekatnya manusia, semua manusia harus menunggu. Dengan memahami kesaksian Beckett tersebut, wawasan tentang kehidupan bertambah dan semakin jelas bahwa sastra bukan hanya hiburan, tetapi ilmu.
Sebuah novel berjudul “Uncle Tom’s Cabin” karya Beecher Stowe yang menceritakan penderitaan budak-budak kulit hitam di Amerika telah mengobarkan rasa kemanusiaan orang Amerika. Buku tersebut dianggap salah satu pencetus dari perang Saudara di Amerika yanbg kemudian membawa kesetaraan perlakuan terhadap kulit hitam di negara yang kini mengakju menjadi pelopor demokrasi itu.
Kita membutuhkan guru-guru pelajaran sastra yang memahami apa sastra dan bagaimana mengajarkan sastra kepada anak didiknya. Untuk itu, sebagaimana juga olahraga, diperlukan pendidikan khusus.
Tapi itu mungkin hanya sebuah mimpi, kecuali kalau pelajaran sastra diberikan posisi yang setara dengan pelajaran tata bahasa, setidak-tidaknya proposional. Lebih lanjut, kerucut kurikulum sebaiknya dibalik agar konteks kekiniannya keluar. Pembelajaran sastra tidak lagi dimulai dari Abdullah Bin Abdul Kadir Munsy.
ARTIKEL BAHASA
SEMANGAT, PERAN BAHASA
MOMENTUM Kebangkitan Nasional yang dikonstruksi pada tahun 1908 merupakan titik yang sangat signifikan bagi
kemunculan bangunan nasionalisme, kesadaran untuk bersatu, serta menyatukan keinginan bersama untuk merekatkan
elemen-elemen yang berbeda dalam satu naungan negara-bangsa yang bernama
Dari momentum Kebangkitan Nasional 1908 tersebut, paling tidak terdapat dua faktor yang sangat signifikan bagi
investasi
perubahan yang heroik bagi tercapainya kemerdekaan dan perjalanan kenegaraan serta kebangsaan
pascakemerdekaan.
Pada konteks tersebut, semakin menegaskan bahwa pemuda memiliki posisi strategis dalam menggerakkan perubahan
dan menciptakan sejarah baru bangsa ini atau paling tidak menjadi trend setter sejarah
sejarah yang tercipta di negeri ini� dilakukan atas peran serta pemuda, seperti gerakan 1908, 1928, 1945, 1966, hingga
1998. Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan betapa signifikannya keberadaan pemuda dalam konteks
keindonesiaan.
Dari gugusan sejarah
tidak berharap bahwa roda sejarah harus terhenti karena pemuda
perannya dalam perubahan keindonesiaan, menghadapi tantangan kesejarahan yang semakin berat, dengan
kecenderungan sosial yang semakin masif dan dinamis.
Kedua, dari lembaran sejarah
dari daerah, bingkai persatuan dan kesatuan nasional, dalam kerangka mewujudkan kemerdekaan dan memaknai arti kemerdekaan, sebagai pijakan bagi pembangunan bangsa yang menghimpun secara harmonis elemen-elemen daerah, dalam tujuan dan cita-cita bersama: memajukan
saat ini tengah menampakkan keceriaannya, setelah sebelumnya tampak kusam akibat paradigma kekuasaan masa lalu, yang memersepsi lahan sosial
Pola tersebut selanjutnya menempatkan entitas daerah dengan segala bentuk, simbol, dan aktivitasnya sebagai sebuah ancaman bagi ikatan nasionalisme atau integrasi nasional. Mungkin penerapan kebijakan homogenisasi tersebut
dianggap tepat, lantaran paham kedaerahan yang sempit terbukti di banyak negara menimbulkan persoalan yang berimplikasi bukan saja pada ancaman persatuan dan kesatuan nasional, namun juga terjebak dalam konflik social antaretnis berkepanjangan, yang pada akhirnya memorak-porandakan bangunan sejarah suatu bangsa.
Namun, fenomena daerah setelah beberapa waktu berjalan dapat menikmati "kebebasannya" dari kooptasi sentralisasi yang berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, nyatanya belum berada dalam posisi yang kondusif. Kerap dalam beberapa peristiwa, masih didapatkan kecenderungan yang mempertentangkan pusat dan daerah. Sehingga muncul kecenderungan dekonstruksi nasionalisme bukan reformulasi nasionalisme yang menawarkan wajah nasionalisme yang lebih baik.
Mungkin juga fenomena tersebut sebagai akibat apresiasi dan kepentingan daerah yang belum terakomodasi dalam ruang yang semestinya. Sehingga kecenderungan-kecenderungan mengurangi dominasi kekuasaan pusat atas daerah
tak bisa dihindari. Hanya, memang dalam beberapa hal, kerap dipandang melebihi takaran yang seharusnya. Peringatan Kebangkitan Nasional tahun ini (2006), idealnya mampu mengantarkan komponen bangsa ini pada kontemplasi terhadap eksistensi nasionalisme yang tengah berada dalam ancaman. Nasionalisme kita yang tengah
berada dalam ancaman, paling tidak diindikasikan semakin panjangnya deretan persoalan kebangsaan, seperti besarnya utang luar negeri, fenomena memudarnya rasionalitas dan praktik kriminalitas sosial yang terus diperagakan dalam lahan
sosial Indonesia sehingga muncul sebutan Republic of Horor atau Republic of Fear, menuntut Indonesia untuk memilikiapa yang disebut nasionalisme baru atau paling tidak merevitalisasi nasionalisme kita yang sesungguhnya dibutuhkan
bangsa ini agar menjadi sebuah keniscayaan.
Langkah ini barangkali bisa menjadi salah satu alternatif, yang mampu memberikan sumbangan penting untuk turutmeminimalisasi pesimistis yang melanda sebagian besar warga negara, agar menempatkan kembali nasionalisme
sebagai sesuatu yang dipahami bersama dalam berbangsa dan bernegara sertamempertahankan nasionalisme dari implikasi negatif globalisasi politik dan ekonomi. Nasionalisme baru yang hendak ditumbuhkan, selain didorong kecenderungan adanya dekonstruksi berbagai hal, padasisi lain dalam konteks keidealan, Indonesia memang belum menemukan bentuk nasionalisme yang "konkret", selaluberada dalam tahapan "pencarian bentuk" (metamorfosis).
Dalam pergumulan wacana seputar nasionalisme sejumlah ahli, semisal Cornelis Lay, mengungkapkan posisinasionalisme yang terimpit oleh dua kekuatan mahabesar: globalisasi dengan logika dan asumsi-asumsi universalitas,uniformitas, dan sentralisasinya dengan etno-nasionalisme yang berjalan ke arah sebaliknya.
Di tengah impitan arus besar tersebut, nasionalisme baru
kewarganegaraan (citizenship), yang memiliki daya seduksi yang sangat besar dalam memenuhi hasrat setiap komunitasdan umat manusia atas persamaan.
Mengapa citizenship layak mendapat perhatian dalam kerangka memperkuat nasionalisme kita? Paling tidak, citizenshipmerepresentasikan kehendak untuk mengusung partisipasi kualitatif masyarakat, untuk mencapai civil society. Barangkali
kita akan sepakat bahwa tidak ada satu pun negara maju yang tidak berlandaskan masyarakat yang kualitatif dalam segala hal. Pun lantaran kewarganegaraan layak dimengerti sebagai jantung dari konsep nasionalisme.
Dengan demikian, semestinya mulai hari ini dan ke depan, kita harus kembali membenahi anyaman sejarah bangsa yang terkoyak di beberapa bagian. Membangun kembali keindahan sejarah melalui jalinan harmonis seluruh kekuatan bangsa, termasuk elemen-elemen daerah. Upaya mengonstruksi keindonesiaan kita yang lebih baik merupakan sesuatu yang sangat mungkin, seperti yang pernah dibuat pada tahun 1908, yang mampu mengumandangkan ikrar kebangsaan yang menjadi embrio kebangkitan nasional, dengan kekuatan nasionalisme kita. Selauh ini peran bahasa Indonesia ternyata mengalami kemunduran. Dimana seharusnya bahasa Indonesia mampu menyatukan seluruh aspirasi sebagai sebuah bentuk kesauan bangsa. Namun demikian tentunya kitasebagai kalanan akademisi gharus mampu menjadi prototable bagi terwujudnya hal yang demikian.
PUISI
KARYA SAYA PERTAMA
SENJA DI 3C BAGIAN 1
SEBUAH PENGANTAR MENUJU KEHIDUPAN YANG AKAN DATANG.
DULU KITA PERNAH
Dulu kita pernah menimba dari sumur sebuah
Berturut tiga kali kemarau dari hari hingga sore
Kita melangkah bersama angin
Berlomba mencari bekal kemudian berlari
Saat senja an kaupun ku lihat berkemas
Bersiap tuk berlayar ke samudra biru
Kulihat bekal mu tlah penuhi ransel
Berlari engkau ke sang kereta samurdra yang kemudian penuh terisi
Dipelabuhan akurasakan tangis
Karma kau melayar kian lenyap di senja larut
Terdiam aku karma asaku tiarap dan tenggelam di dalam hati
Seluruh ragaku mengucap O
Dan kian tersadar karma terjerembab ke air payaw
Aku menoleh rumput yang biasa kita injak kini berbunga
Dan kurenungi kau yang sedang berlayar memikat
Dan renungi bumi yag sedang slalu sendiri.
SENJA DI 3C.
Hari ini adalah hari terahir untuk mata pelajaran bahasa inggris, sebelum kami memasuki hari tenag menjelang ujian nasional. Jarum jam sudah menunjuk kea rah angka tiga. Papan tulis hitam di hadapan kami mulai lusuh , dan kebimbangan kurasakan. Sejanak lamunku melayang seketika keperistiwa yang akan terjadi tahun depan. Pak Sarjono terdiam sejenak memandangi kami, yang seakan cemas akan kemampuan kami, seraya meminta kami untk selalu belajar dengan rajin, beliau duduk sebentar aku memandangi teman-teman ku dari epan hingga belakang . seno sahidin, kamu temanku yang cukup senang bercanda dengan ku, shodok yang kemarin saat kelas dua dapat kasus karna ucapan mu kepada ibu Umi saat pembagian kalender. Yadi teman ku dari kricikan, kau tmanku arak- arakan tentu juga temanku ngontelan yang senantiasa kita berangkat dan pulang sekolah bersama –sama. Saipul teman ku yang imut, aku masih ingat kemarin kelas satu bmx kecil ternyata tangguh juga berlari antara Tuban-Pagerjo. Solikin kulihat sang Jaran yang gagah perkasa senangnya tertawa, jelasnya kamu sekelas paling tinggi. Sejenak aku berkedip saat mataku terbuka wealllah…… to…pa…h! terlihat amat sukur angop tentunya sang tampan dari Drugan ini cukup kita kenal dengan celotehnya dan tanpa kusadari sejenak melihat sukur aku bisa tertaw dalam hati. Di sebelah nya ada Rois, sang Lukman dari wonorejo , apa kamu inggat saat kemah pramuka, dan di belakang nya ada si ganteng dari timur, Teguh namanya. Trimble teman sejawat suseno kalian berdua muga akrab aja. Kang Kenthus, pulutan jauh yo kang , Tanya ku kepada Agus yang saat kitanan tak parani, sory ya Gus senek mu dipangan, Fauzi ro yusuf. Budi temanku yang suka tak tiruni PR mu terimakasih untuk semua yang kau lakukan, tentunya tiada yang paling asik selain ciblon di kali, Fauzi, wehehe, andi, adit setiati jamil, kalian ku lihat mulai lelah, ketahuilah ribuan kisah petualangan telah kita alami, tentunya dari Tk sampai sekarang. Hendri, Sajit kalian sing rung pernah datang dolan kerumahku, kelihatanuya kalian mulai lelah. Semua teman ku yang sangat aku sayangi, dari jendela aku menerawang jauh ke seluruh peristiwa yang pernah aku alami, saa – saat ketika kita belajar bareng, tertawa bersama dan takut bersama. Peristiwa kenaikan kelas yang tentunya memberi kenangan tersendiri adalah sebauh wujud dari lamanya kita berlatih, belajar dan saling kerjasama. Masih terlihat jelas peristiwa yang kita alami saat melaksanakan kemah bakti di sangiran, Yadi, Yasin, Andi, Adit, Budi, Lukman, Shodik. Kita pernah satu regu bekerja dalam sebuah permainan pramuka.kalian semua temanku hay Dwi dua duanya, Zahra, Miratul, Sari, Kristias, Fitri, Heni Lestari, Mutmainah, Nurhidayah, Dewi, Wahyu, Yu Nir Is, Yuli Purwanti, Cah Mah Bang, Eni, Nurjayanti, Heni Sulistio Wati, bukanya kamu ingat henisulis, ketika pelajaran PPKn, pak kaimi selalu memanggil namamu. Ketahuilah sekarang beliau sudah tiada. Jiwaku berkata dalam asa yang menerawang, aku benar-benar pernah hidup bersama dalam gelegar tawa gembira, Sholikin teman ku ingat aku akan sebuah kejadian dimana penghapus mengenai kepalamu saat pelajaran matematika. Sepoi angina membelai dan menyadarkan ku dari dunia lamunan, suara pak guru bahasa inggris yang mengahiri pelajaran disambut dengan semangat oleh teman teman ku yang seraya berkemas.
Aku melangkah keluar kelas, leluasa aku melihat tanah lapang halaman sekolah yang luas. Hijau rumput yang diam hanya bisa menyaksikan setiap perjalanan dan kisah yangku alami di sekolah ini. Seakan dalam diamnya sang permadani kaki menyanyi sayonarsa dengan gaduhnya kepada kaki kaki kita yang setiap hari kita injak injak ia. Nafas yang keluiar seraya menyuarakan lirih senandung hati, pengelihatan ku menerawang,jauh didepan kegembiraan kalian teman-temanku yang sedang pulang ke rumah nafas sedih menghampiriku, mungkin karna sebentae lagi mereka yang ku cintai akan meninggalkan ku dari sebuah keberadaan, menuju pintu yang menghubungkan dengan jalan yang telah Tuhan tentukan terhadap hambanya. Sedang asaku mulai bertiarap asa karna kehidupan baru mungkin akan datang menggantikan kehidupan yang sekarang ini tentunya aku takakan dengan mudah melupakan kalian semua. Kemudian aku melangkah ke tempat sepeda ontel kendaraanku satu satunya yang setiap hari setia mengantarku ke sekolah. Aku melihat, teman temanku dengan wajah lesu karna lelah bercampur dengan rasa gelisah karna sebentar lagi ujian datang. Bergegas aku mengayuh sepeda ontelku meninggalkan sekolah yang ku lihat ia mulai merasa ernah melindungi kita. Sepanjang jalan ku lihat pemandangan sama seperti biasanya. Jalanan yang penuh sepeda ontel, dengan aspal yang penuh lubang karna tlah termakan usia. Kanan kiri jalan kulihat, sawah, dalam hatiku meyakinkan bahwa suatu saat nanti mungkin ini akan menjadi sebuah cerita kepada sanak dan saudara, tentang bagaimana perjalanan hidup yang mulai terlewatkan zaman.
Sesampainya di ujung jalan aku memandang ke ufuk barat, terlihat sang senja anggun dengan warnanya berkata, wahai manusia, kini tlah tiba waktuku untuk menyelimuti kalian semua dengan kekalutan, karna Tuhan menarik selimut terang di waktu kalian. Aku adalah hamba yamg patuh atas perintah Tuhan karna di sisi lain bumi telah memalingkan wajah nya kehadapan ku, dan aku menatapnya seraya berpaling dari sisi bumi dimana kalian berdiri diatasnya.wahai seluruh makhluk alam raya, ketahuilah bahwa kehidupan ada karena dua hal yang saling bertentangan, dimana adanya sebuah wujud terjadi karena kefanaan.
Tuhan juga memperlihatkan kepada kita tentang bertapa kerasnya sebuah perjuangan dalam hidup, baik yang kita alami sendiri maupun yang bisa kita lihat dari orang lain di sekitar kita. Apa yang saya lihat tentang hidup adalah sebuah perjalanan, perjalanan menaiki tangga yang telah ditentukan tingginya.sedang setiap anak tangga yang kita lewati tiak akan kita bawa ke anak tangga yang diatasnya, hanya saja dengan adanya anak tangga yang kita lewati kita bisa menuju pada tingkat berikutnya. Dan kaang kita terpeleset, karna licin, dan kadang kita takut, takut karena melihat ke bawah. Sedang kita sudah berada di temapt yang tinggi. Kadang kita juga merasa sesak nafas karena udara ditempat yang tinggi semakin menipis. Saat kita sampai di ujunhg tangga, kita akan lelah karena telah habis tenaga kita dan kemudian kita terjatuh dan hilang dari pandangan orang di bawah kita, untuk menunggu dalam penantian yang lama. Sedang yang kita tinggalkan hanya lah jejak kaki yang kita torehkan pada setiap anak tangga yang kita tinggalkan. Kita hidup di dunia pada dasarnya telah ditentukan tentang lamanya kita bernafas oleh Tuhan yang maha kuasa. Tingakat kehidupan dari masa kanak kanak seterusnya akan kita lewati, apapun yang terjadi pada setiap setiap masa yang kita lewati tidak akan kita bawa ke masa yang akan datang. Semua tinggal kenangan yang kita sendiri yang akan mengingatnya. Dalam setiap masa, kita akan mengalami segala peristiwa yang merupakan dua bentuk yang saling bertentangan. Sesampainya kita di ujung kehidupan kita tidak lagi mampu berucap dengan lantang kata aku, dengan raga kita yang kokoh menyertai. Sedang kita akan kembali pulang dalam waktu yang sangat cepat, dan rasa yang begitu hebat.
Akupun sadar akan sebuah perpisahan yang akan akua alami di masa ini. Masa dimana aku bersama teman teman ku di MTs ini, semua akan menjadi sebuah kenangan yang akan kuceritakan kepada mereka jika aku hidup sampai di
DI AKHIR EPISODE
Bukankah malam gelap itu sengaja untuk kita?
Foya, tawa, pesta ah.. barangkali sejenak
Aku bisa lulus di akhir episode cerita.
Yang sempat tertimbun dalam……
Rahasia tentang jiwa-jiwa ini telah terbuka, terbuka bagi…….
Terkadang ada tirani yang bentengi antara ego diri.
Aku bicara dalam mulut kaku tak bergerak.
Bisu..! memang,
Aku mendengar suara dengan telinga yang terkunci pula.
Tuli…! Ya.. tentu.
Ketika hari tlah senja
Aku tak lagi bisa nelihat warna
Dalam pergantian antara gelap dan terang.
Semakin tenggelam……….
Slamat tinggal.
Yang tersisa dari segenap perjalanan bagian ke2 MTSn Gondangrejo
My code.
Perjalanan simbah bagian dua.
MATI
Panjang pendek akan sebuah arti
Ketika napas berhenti
Ketika mata teringat pejam
Diriku bukan lagi aku
Tak lagi kuasa aku akan diriku
Tak lagi ku bisa menerawang rasa
Saat ragaku bukan lagi aku
Dan aroma yang tercium lidah saat perpisahanku dengan raga
Aku dan ragaku akan berpisah
Ragaku kembali ketempat dimana aku berdiri
Sedangkan aku tak punya arah
Selain bisa melihat ragaku yang kembali ke tanah.
SEMANGAT CINTA
Namun cinta hanya perasaan
Sejuk bersama embun pagi
Datang untuk setiap jiwa
Berikan warna dari setiap kehidupan
Berikan corak dalam settiap keindahan
Memberi kasih untuk bersama
Semangat juang kebersamaan
Bersama cinta dalam ciptakan setiap keindahan
MAAF
Di sela kesepian hari
Aku termenung mencoba mengingatmu
Dalam kelesuan hidupmu.
Kuciptakan dirimu dalam dunia hayalku
Coba kuberikan kehidupan dirimu di hayalku
Dengan berbagai kecukupan yang aku harapkan, di hayalku kamu.
Bahkan sampai kutau tubuhmu harum baunya.
Maafkan aku jika kujadikan dirimu bagian dari kehidupan ku.
TERLANJUR KUSAPA SENYUMMU
Aku menatap ada kamu
Tiap kali ada dirimu
Aku malah jadi ragu
Aku yang terlanjur menyapa senyummu
Tak bisa tidur sampai sekarang aku dari ingatan ku
Slalu saja mengingat senyummu di benakku
Tiap kali kesepian melanda
Kutemukan dirimu dengan senyum yamg tak terlupa.
GLADIATOR
Kesatria yang gagah perkasa
Maju ke
Gemuuruh suara manusia
Iringi derap langkah sang kesatria
Menebas lawan
Memecah darah sang kesatria
Musuh terkapar meregang nyawa
Tiap kedipan matanya
Mengandung pesan
Kasihi aku seperti manusia
Tanpa aku
Kau bukanlah pemenang
Sayangi aku seperti manusia
Karna engkau
SENJA DI TIGA C
Tuju hari lagi ujian nasional
Jam tiga sore kami masih ada di kelas
Dengan pena terpegang di tangan kanan
Melukis angka 1,2,3, sampai tak terhingga
Menulis abjad a,b,c…. ah,,, aku benci berpisah
Teman teman ku mulai lelah
Tangan kiri mulai menopang sirah
Huuuah kletek- kletek geliat tubuh mereka.
Papan tulis mulai lusuh di hadapan utara
Dan senja mulai mengisaratkan
Suara adan asar mendayu-dayu8
Aku pandangi semua ajah temanku
Namun isarat senja membisikkan
Sebentar lagi mereka akan berjalan sesuai kehendak tuhan
SEPERTI AJAL
Seperti jal yang sederhana
Baying menara jam
Memanjang pelan
Ke pelasa dususn
Dan lelaki berdiang
Separuh siang
Menanti burung kembali ke bukit
Menahan senja di jendela
Sebelum cacat langit
Sebelum musim jadi masam
Dan sorga dalam warna lokl
Terbentang tua
Dan persegi melingkari
Yang tak kekal
BISIK MALAM SUNYI
Malam sunyi
Mengapa cinta adalah sedih
Dalam sedalam sayatan pedang
Mengiris ribuan luka di hati
Tak pernah hilang bersama malam
Gelap gulita sepanjang
Sisihkan hari bulan dan tahun
Bersama waktu lintasi yaman
Menjadi puing tajam sepanjang jalan
Merobek kulit hati dan perasaan
Yang tersisa hanya remah
Tersisih terinjak dan terhina
Terabaikkan di gelapnya malam
MANUSIA GILA
Fajar menyingsing menyilau mata
Manusia gila membuka mata
Berjalan tertatih tatih
Menuju bak sampah
Menunggu lewat mobil mewah
Dengan pennuh harap
Bungkus plastic sisa sarapan
Trrlempar dengan picik mata
Manusia gila hidup tersisih
Terhimpit tempat harta dan kasih
Terbuang jauh di ujung kehidupan
Menanti iba kasih dan pegangan
PENGUMUMAN
Pagi buta ku buka mata
Kulihat tanggal di kalener kamar
“ buk mengke pengumuman kula di dongakke lulus”
Pintaku pada ibuku
Ia hanya tersenyum
Aku berangkat ke sekolah
Lulus, tidak, lulus, tidak irama detak jantungku
Kulihat tangis, senang setiap temanku yang membuka lembaran
DIA BUKAN MASA DEPAN
Di belakang aku menerawang
Menerawang hingga batas kemampuan
Mengharap suasana yang kadang bertolak dengan rasio
Di belakang aku menerawang
Menerawang hingga batas kehidupan
Dan berdiri, bersanding dengan bayangku,
Dengan bebas kuciptakan dunia,
Dibelakang aku menerawang
Menerawang dari balik jendela yang memancarkan cahaya
Temanku bilang itu masa depan
Mereka harapkan…
Tapi bisa kuciptakan dunia ku sendiri,
Disana aku berkata
Dia bukan masa depan
DEWA DEWI BERCUMBU
Hujan reda di bumi bekasi
Seorang renta berkaca kaca
Melihat langit beratmosfir sahwat
Burung dara pembawa pesan hinggap
Diatas sebuah apartemen mewah
Pandanglah sempat menengadah
Lewat mobil mewah
Pesan merpati,
Dewa dewi sedang bercumbu
BEKICOT
Guru tk bercerita kepada anak anak
Bekicot hewan lunak dan pemalu
Bekicot hewan yang tak ramah
Siapapun tak ijinkan masuk kedalam rumah
Tuhan kutuk iya menjadi hewan yang kemana mana tertimpa rumah
MENTARIKU HILANG
081 548 760 776
Dunia memang ciptakanku dalam sebuah masa yang….
Selalu berubah sesuai kehendak Tuhan
Kuanggp ia temanku yang mau kua ajak
Menelisuri seluruh dunia denagan angka dan huruf
Dari dalam kamar, sepinya malam dan kelamnya suasana.
Ia bisa tertawa hanya aku yang mendengar,
Tapi saying ketika rumahnya kugantikan.
Ia malah pergi entah kemana.
Mentariku hilang, kubilang.
KALRAS, NAMANYA.
Ibuku pernah berucap saat aku menguap,
Membawa hayalku ke dunia klaras,
Sang putru yang selalu berpakaian emas,
Taklagi ia melihat rakyat yang selalu merasa tak puas
Ia hanya putri yag hidup di kalangan bangsawan
Takpernah keluar bersanding bersama para jelata.
Ia bisa mengubah manusia menjadi bekas,,,,,,
Hanya dengan telunjuknya
Ia juga isa melepas kepala kita hanya dengan membuka muutnya
Suatu ketika tuhan murka mengubahnya menjadi kelaras godong gedang
6TAHUN LALU
Adakah kenangan tentang 6tahun lalu kita menimba
Tentang seorang yang tinggal,
Satu dari jutaan kenangan menghampiriku di pagi buta
Dari sebuah masa yang telah lalu
Kemarau jiwa telah memuncak
Meski masih pagi segar berembun,
Rasaku berada di sebuah gurun gersang
Sadang aku mengharap menemui oasie
Tuk sejenak minum dari air yang dulu pernah kita timba
AKU SENDIRI DALAM TIGA MASA
Aku melihat dengan sendiri
Sebuah kehancuran,
Aku juga pernah hidup dalam duniaku yang hancur
Ooooya aku lupa bahwa aku belum cerita,,,
Aku juga pernah tertawa dalam keheningan malam,
Tentu juga aku tak pernah cerita
Karena dunia hanya aku saja…
Aku juga pernah menangis saat kalian tertawa karna aku disana….
Ah aku juga lupa bahwa aku juga belum bercerita
Kukatakan padamu bahwa aku pernah hidup dalam tiga masa
AKU INGGIN
Aku inggin seperti kalian
Katanya kalian bisa…..
Tapi tubuhku tak lagi berdaya
Aku ingin seperti kalian yang ringan
Bisa terbang kemana-mana
Tapi aku bukan burung,
Yang ku tahu hanya kalian selalu membebaniku
Aku takbisa kemana mana,
Selain dengan ragaku
UJIAN
Lembaran kertas mulai dibagikan
Aku duduk paling pojok
Menanti dualembar yang harus…
Tanganku mulai mengisi lembaran dengan tulisan
Aku masih ingat denfgan jelas apa yang harus aku tulis
Tapi temanku lebih cerdik dari aku
Mereka cerdik, kancil adalah tokoh dalam ceritaku
Aku tak lagi bisa lulus bila ujian tiba
Karna kancil lebih bisa meraih angka berapapun
SLAMAT MALAM BULANN
Slamat malam bulan,
Bagimu pagi,,,, maaf
Kau bercahaya tapi hanya bias surya
Tapi cukup untuk membedakan wajah wajah yang mau
Denganmu…
Oh ya aku lupa melihat trafict left
Slamat malam bulan
GALI MENYANYILAH
Rel purwosari masih melintang jalan,,
Kemarin ada yang mati satu,,,
Katanya tertabrak kereta
Padahal didekatnya ada gobang,,,
Ehhh,, lupa polisi ……
Y BESAR.
Hana hanu hanaran
Y besar melihat
Hana hanu hanaran
Terinjak
Saat orang memasang bendera
Kalian tahu….
Benderanya banyak
Y besar
AKU DATANG SEBAGAI MUSUH
Aku dilahirkan menjadi orang lainserta wajah yang lain
Dari yang menatapku
Aku ingin kalian menatapku sebagai musuh
Dalam tertawa dan marah,
Karna aku datang sebagai musuh hawa
Keloloten
Sarapan matang jam enam
Kata bapak ini hasil melaut
Dari laut keringat bulan ini
Tapi aku melihat piring
Telingaku tuli
Coba aku denagar
Ora urus….
Leg..
Keloloten
Paktani JUJUR TANPA KORUPSI,
Pak tani memikul,
Aku berjalan di sebelah kirinya
Rautan pak, sapaku,,,,
Ya mas,,,, tapi gak sebanyak para dewan katokan,
Bukan pula pejabat….
Uang nya tak cukup buat…..
Mau korupsi uang beli pupuk….
Mau panen apa////
KUBAGI KALIAN DENGAN KERINGAT
Aku lelah
Jalan yang k u lalui sudah sekian lamanya
Aku juga mulai mengeluh
Karena aku juga sudah berkeluh
Entah siapa lagi akan ku keluhi,,,,,
Aku kurang karna hak ku hanya sebuah penantian,,,,
Sepertinya aku hanya sebagai pelengkap
Pelengkap dunia yang dibutuhkan
Hanya jika dunia merasa kurang
Aku sudah lelah
Pekerjaanku hany amencukupi kekurangan kalian
Dunia adakah manusia yang punya hati?
Aku menanti itu
KABUT
Lawu berkabut
Tapi bukan di gunung
Katanya….
Bagiku iya…
Disana sedang berkabut
Hanya aku yang bisa melihatnya
Karna ia hayal
Jika nyata kalian bisa melihatnya
Tapi aku akan buta,,,,
Air
Telaga kasih berwarna kelabu
Bukan karena tertutup kabut
Tapi karena bersumber dari uap neraka
Aku juga tau mereka yang membuka pintunya…
Tapi aku tak terucap
Karena mulutku terssumbat
Mata merah menyala
Itu asalnya
Terbuka lebar
Lahar bening mengalir
Memenuhi lesung pipi
Menjadi seorang yang tertawa itu sulit kataku perlahan
SETITIK
Senyum surya fajar ini memalingkan wajah..
Mereka bilang karma hari ini
Aku tak pakai seragam!
Yah…..
Kuakui saja, kali ini aku tak pakai seragam.
Akmi lelah, seragam hanya membuat…
Membuat kami tertimpa…..
Ber ton-ton beban tak jelas….
seragam yang kami dapat hanya membuat
membuat kami terpijak dan tenggelam
tenggelam dalam-
dalam danau ludah kemunafikan
yang keluar dari kata kalian ucap,
kali tatap aku sebagai musuh,
karena aku tak memakai seragam
yang sama dengan kalian
RODA
kami hanyalah sebuah roda
roda penggerak
memang kami butuh pelumas,,
namun tak cukup bila hanya sekali dalam
keringat, drah, yang keluar dari tubuh kami tiap hari
cukup sebagai pelumas, bagi kami untuk berputar
mengantarkan
dimjana
berada bersama mereka
namun kami hanya roda
roda yang selalu berputar
berputar
duniaku antara langit dan bumi
temanku yang bauk hati telah lama aku berjalan, entah kemanalagi aku harus menuju.
Bumi tmpatku berpijak rasanya hampa, teman, tawa, riang, sayang tawar kurasakan. Kehidupan yang ku laluai hanya kenarin sekarang dan nanti. Selamanya aku yang menjalaninya. Tuhan marahkah engkau jika aku terbuang? Namun mataku masih juga selalu memandang. Dari dunia yang tak bertetangga.
Aku berangkat
Seperti biasa aku berangkat, sepanjang jalan aku meliaht banyak orang yang berjalan. Sama sepertku. Dunia tak lagi punya apa yang kita harapkan. Aku bekerja siang dan malam. Berharap bisa duduk sederajat mereka. Ibuku bilang apa aja boleh yang penting halal. Dunia luas kupandang, uang recehan berhamburan, kupungut serupiah demi serupiah. Dari bak sampah, batang kayu dan beberapa dari sisa saku. Saat berjalan temanku banyak yang tertawa bwngis, dan kadang aku ingin menangis. Dalam hatiku aku ingin balas dendam, aku ingin membunuh merekasemua yang pernah mengejek ku. Ya kuputuskan dalam anganku. Tapi ibu pernah bilang padaku jangan pernah dendam, biar banyak kawan. Kata kata itu membuat aku benar bener menangis. Aku tak tau lagi kemana aku harus mengadu segala keluh. Aku tak mampu lagi menahan segala dendam, aku tak lagi mampu bertahan di dunia yang menenggelamkanku dalam danau ludah kemunafikan mereka yang mengaku teman.
Sebenarnya aku ingin berdiri sejajar dengan mereka yang mengaku teman. Namun batu yang ku gunakan sbagai alas kakiku mereka pinjam. Aku tak bisa menjadi cinais yang tega melihat tetangganya meringis, aku lahir dari keturunan jawa desa, yang terlalu lomo, ibuku bilang membantu teman tidak ada ruginya. Akupun tak tega melihat orang dengan wajah yang meringis meminta, apalagi temanku. Namun ketika kakiku mulai tergenang air mereka yang mengaku temanku sepertinya acuh terhadapku. Bahkan mereka berharap aku tenggelam, mereka mungkin memungkiri bila aku berkata demikian. Padahal aku benar benar merasakan betapa rasanya berenang berjuang hidup keluar dari air keruh kehidupan. Tak ada teman, hanya lapar, payah , lelah, marah, itulah rasa yang ku rasakan. Pekerjaan yang ku lakukan hanya membuat mereka menimpakan beban mereka kepadaku. Aku tak lagi punya malu, demi tanggungjawap atas amanah yang ku emban. Sebenarnya itu yang harus mereka tanggung, dan hanya membuatku tertekan dan kembali tenggelam dalam danau kemunafikan mereka.
Sampai pada hari ini aku taklagi berharap, aku binggung , bingung mau bagai mana lagi, aku lelah….. lelah karena aku jauh berjalan kehilanggan arah. Aku malu ….. malu karena ternyata kalian mempermalukanku. Aku marah…… marah pada kalian….karna kalian tak punya aroma kesetiakawanan, hanya aroma busuk kemunafikan yang membuatku muntah bila harus dekat kalian. Aku benci pada kalian, karena kalian telah membohongi ku. Apakah kalian tak melihat aku, melihat betapa payah nya aku berenang keluar dari danau ludah kemunafikan kalian. Pada akhirnya ku putuskan aku harus berangkat.
Aku berjalan menyusuri hari, bulan, dan tahun. Ransel penuh tentang kesetiakawanan, mulai kubuang bersama tetes air mata duka. Setiap langkah aku bertanya pada Tuhan. Tuhan kenapa tak ada kawan yang tulus mennghiburku. Orngtuaku juga terlalu asik mendramatisir dirinya sendiri, aku tak pernah berucap pada semua orang tentang apa yang mengganjal pikiranku. Aku tak pernah meminta siapapun untuk mau meluangkan waktu bersamaku, tapi mengapa mereka memaksaku, padahal mereka temanku?. Adakah mereka egois Tuhan? Sehingga demikian? Apakah ini yang bernama setia kawan, sayang, ataukah sebuah penghormatan, Tuhan aku tak meminta imbalan atas apa yang aku lakukan, tapi Tuhan, adakah hati nurani padda mereka?. Tuhan aku mulai lelah, aku mulai taksanggup lagi bila harus berjalan dengan ransel penuh tentang kesetiakawanan, kasih sayang, dan tentang persahabatan. Tuhan kukembalikan ransel ini kepadamu lewat arus danau ludah kemunafikan teman-temanku. Tuhan aku tak lagi mau tinggal bersama mereka di bumimu, dan aku masih takut melihat ragaku sendiri dari langit Mu. Tuhan hari ini aku mengadu meminta keadilan darimu. Karena aku percaya engkau maha segalanya. Dan aku percaya kesulitan yang ku alami akan ku tinggalkan bersama apa yang mengecewakan ku. Hari ini aku mencari duniaku.